Header Ads

Tim Mediasi Perkara di PT Bandung Pakar Temui Jalan Buntu, Dahlan Tolak Rp. 10 Miliar


INDEPENDENT | Dahlan Singarimbun Tokoh Cimenyan, Kabupaten Bandung menolak upaya damai dan penawaran pihak PT Bandung Pakar.  Alasannya, penawaran tim dan advokasi PT Bandung Pakar tersebut dinilainya tidak sepadan terhadap gugatan, tuntutan dan penderitaannya selama ini.

Selain itu, nilai dan angka yang sempat terucap tim mediasi di PN Bale Bandung hari ini sebesar Rp. 10 Miliar dianggap Dahlan sebagai barganing yang tidak lucu dan nyaris membuatnya tersinggung.

"Ya jelas, saya tersinggung, karena tidak sesuai dengan nilai kerugian materi dan immaterial selama 15 tahun saya di dzolimi PT Bandung Pakar," ujar Dahlan kepada awak media usai mengikuti "sidang mediasi" di PN Bale Bandung, hari ini. (23/7).

Meski sudah disepakati para pihak pada sidang sebelumnya, Dahlan menyesalkan ketidakhadiran petinggi dan bos PT Bandung Pakar hari ini. Sebab, tim mediasi  PT Bandung Pakar hanya di wakili Bapak Karjono dan Bapak Wawan serta Tim kuasa hukum PT Bandung Pakar Lainnya.

Kendati belum menemui kesepahaman terkait sengketa Dahlan Singarimbun dengan PT Bandung Pakar, melalui kuasa hukumnya tetap berupaya agar masalah ini cepat selesai secara damai.

Guna mewujudkan harapan itu, Dahlan menguji keseriusan PT Bandung Pakar untuk membuka aliran air yang saat ini telah diputus oleh pihak PT Bandung Pakar.

"Kita coba saja dengan air, sampai dimana keseriusan mereka untuk benar-benar ingin berdamai dengan kami. Kalau memang itu bisa dibuktikan.  Ya puji Tuhan.  Artinya, tidak saya saja yang senang, tapi  Cacing-cacing di sekitar rumah saya tidak lagi harus berpuasa," ujarnya dengan nada satir.

Atas gugatan dan tuntutan Dahlan, pihak PT Bandung Pakar minggu depan direncanakan akan memberikan jawaban tertulis. Termasuk keinginan soal aliran air yang selama ini telah diputus.

"Kalau soal permintaan kita soal aliran air tidak dijalankan, ya ada kemungkinan upaya mediasi kita gagalkan saja. Kita jalani saja sidang sebagaimana tuntutan yang telah kita sampaikan ke pengadilan. Biar pengadilan yang memutuskan," pungkas Dahlan pede.

Menurut Dahlan, soal aliran air yang diputus dinilai sebagai bentuk kejahatan yang sulit untuk dimaafkan.

"Kejam dan jahat sekali manusia itu, lha burung saja disangkar harus di beri air, ini manusia masa diperlakukan seperti itu. Artinya, hak-hak saya sebagai manusia sudah dirampas," imbuhnya. (R-007)



Tidak ada komentar

KOMENTAR PEMBACA:

Pembaca SUARA INDEPENDENT dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.