Header Ads

Satu Tewas 14 Terluka Dibunuh Pasukan India Setelah Shalat Idul Fitri di Kashmir


INDEPENDENT | Seorang pengunjuk rasa tewas dan 16 lainnya terluka oleh pasukan bersenjata India setelah sholat Idul Fitri di Kashmir selatan pada Sabtu (16/6/2018), media setempat melaporkan.

Dr. Majid Mehrab, pengawas medis rumah sakit distrik Anantnag di mana korban luka-luka dirawat, membenarkan kematian seorang warga sipil berusia 20 tahun, yang diidentifikasi sebagai Sheeraz Ahmad.

"Almarhum menderita luka tembak di tenggorokan dan kepalanya dan tidak bisa bertahan hidup," kata Mehrab kepada media.

Namun, polisi dalam sebuah pernyataan mengklaim penyelidikan awal mereka mengungkapkan bahwa pemuda itu telah tewas oleh cedera serpihan dari granat.

Dia adalah warga sipil kedua yang tewas di Kashmir selama 24 jam terakhir.

Pada Jum'at malam, Waqas Ahmad yang berusia 24 tahun terbunuh dan saudara perempuannya Ruqaya Bano terluka oleh pasukan bersenjata India di daerah Nowpora di distrik Pulwama.

"Personil militer terpaksa menembak udara ketika massa yang menolak mematuhi perintah verbal mereka untuk bubar," Rajesh Kalia, juru bicara militer, mengklaim.

Kashmir, wilayah Himalaya mayoritas Muslim, dikuasai oleh India dan Pakistan dalam beberapa bagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil Kashmir juga dikuasai oleh China.

Karena mereka dipartisi pada 1947, kedua negara telah berperang sebanyak tiga kali - pada tahun 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya mengenai Kashmir.

Juga, di gletser Siachen di Kashmir utara, pasukan India dan Pakistan telah bertempur sebentar-sebentar sejak tahun 1984. Gencatan senjata mulai berlaku pada tahun 2003.

Beberapa kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan kekuasaan India untuk kemerdekaan, atau untuk bersatu dengan negara tetangga Pakistan.

Menurut beberapa organisasi hak asasi manusia, ribuan orang dilaporkan tewas dalam konflik di wilayah itu sejak tahun 1989. (st/aa/voa-islam)


Tidak ada komentar

KOMENTAR PEMBACA:

Pembaca SUARA INDEPENDENT dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.