Header Ads

Inilah Jalan Keluar Bagi Penderita Kesombongan akut


Kesombongan yang paling hakiki adalah ketika seseorang susah menerima nasehat dari orang lain.  “Alkibru bathorul haqqo waghomthunnaas”. “Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia (HR. Muslim)”, demikian sabda Rasulullah.

Di era ketika ormas (organisasi masa) telah menjelma menjadi agama, nasehat sebaik dan sebenar apapun tak didengar. Ormas telah menjadi ‘espre de core’. Right or wrong is my ormas. Tokoh-tokoh yang bertindak salahpun menjadi ‘maksum’, dan dibela mati-matian. Contoh teraktual adalah pernyataan yang diklaim sebagai diplomasi  yang dilakukan oleh seorang tokoh di Israel. Berbagai nasehat tentang kontraproduktinya pernyataan tokoh ini tak digubris pendukungnya. Saya sendiri telah membaca seluruh transkrip wawancara ini, dan dari perspektif discourse analysis, tak ada satu kalimatpun yang merefleksikan pembelaan atas Palestina.

Ketika ormas telah ‘menjelma’ menjadi agama, orang-orang pengabdi ‘quasi religion’ bernama ormas cenderung akan mengalami disorientasi tata nilai. Benar dan salah tidak tergantung pada akal sehat dan ajaran kebenaran kitab suci. Yang benar adalah tokoh-tokoh ormas saya dan produk-produk pemikiran ormas saya. Yang salah adalah Anda yang bukan ormas saya. Maka Anda layak jadi musuh saya.  Tak usah heran  jika kemudian Anda membaca di media sosial list ustadz-ustadz yang dianggap radikal, termasuk didalamnya adalah para ustadz yang saya kenal betul berakhlak sangat mulia dan berkontribusi besar bagi masyarakat. Maksud sebenarnya adalah list ustadz yang berlainan pandangan dengan mereka.

So, sungguh ada semacam sindrom ketakabruan iblis pada para penderita akut penyakit kesombongan ini. Jika iblis berkata, “Qoola ana khairum minh”. “Aku lebih baik darinya” (QS. Al. A’raf: 12). Sama persis, manusia-manusia yang mempertuhankan ormas akan berkata: “Ormasku lebih baik daripada kelompokmu”

Orang-orang dengan kesombongan akut susah untuk mendengar nasehat kebenaran. Misalnya saja pemahaman bahwa ormas adalah sekedar ‘wasilah’ (kendaraan), bukan ‘ghayaah’ atau tujuan akhir. Si biang takabur akan menganggap bahwa ormasnya adalah ‘ghayaah’, sehingga muncul semacama nasionalisme sempit: “Benar atau salah adalah ormas saya, dan tokoh-tokoh dari ormas saya, sehingga mereka akan saya bela mati-matian”.

Satu-satunya jalan keluar bagi penderita kesombongan akut adalah terus mendekatkan diri kepada Allah agar kerasnya hati bisa dilunakkan olehNya. Setelah itu tumbuhkan sikap tawadhu’, rendah hati untuk menerima nasehat, ‘iso rumongso’, bukan ‘rumongso biso’.



Tidak ada komentar

KOMENTAR PEMBACA:

Pembaca SUARA INDEPENDENT dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.