Header Ads

Klarifikasi Habib Umar bin Husein Assegaf: Tuduhan Kepada Kiai Said Sebagai Anti Arab Tidak Tepat


INDEPENDENT | Kunjungan GRAND SYEIKH AL-AZHAR ke Kantor PBNU pada 2 Mei 2018 lalu masih menyisakan polemik dikalangan umat. Terlebih setelah beberapa potongan vidio yang beredar sengaja diedit dan kemudian menimbulkan fitnah.

Guna mengcounter informasi yang berkembang tersebut, Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Kekerasan dan Intoleransi (GENERASI)
Habib Umar bin Husein Assegaf membantah dan sekaligus mengklarifikasi atas fitnah dan tuduhan ke Kiai Said Aqil Siradj.

Berikut rilis dan klarifikasi lengkap yang diterima redaksi sesaat yang lalu:

BANTAHAN ATAS FITNAH DAN TUDUHAN KEPADA KYAI SAID AQIL SIRADJ DALAM KUNJUNGAN GRAND SYEIKH AL-AZHAR KE KANTOR PBNU 2 MEI 2018

Habib Umar bin Husein Assegaf, Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Kekerasan dan Intoleransi (GENERASI)

Jangan kebencian kamu kepada suatu kaum menjadikanmu berlaku tak adil, dialog yang cerdas antara Syeikhul Azhar dan Kang Said terlihat jelas bahwa mereka tidak ada saling menegasi, tidak saling mengagresi dan tidak saling merendahkan satu dengan yang lain karena keduanya adalah Ulama yang berwawasan luas, moderat, tawadhuw' dan berakhlaq mulia. 

Pembuat potongan video kunjungan Syeikhul Azhar ke Kantor PBNU yang di viralkan itu tidak jujur dalam mengutip poin-poin pembicaraan Kyai Said Aqil Siradj seperti yang dihilangkan dan tidak diterjemahkan adalah ucapan Kyai Said tentang Nasionalisme Arab yang rapuh, absurd dan tidak Islami yang diusung oleh seorang Arab beragama Nasrani Michel Aflaq dan gaung Sosialisme dan Nasionalisme Arab mendapat tempat dan dukungan secara luas kala itu.

Kang Said menjelaskan Islam Nusantara adalah bukan sesuatu yang baru, Islam Nusantara hanyalah sebuah typologi bukan aliran atau mazhab tetapi adalah intisari Islam itu sendiri. Islam Nusantara adalah Islam Washatiyah yaitu Islam moderat (bukan fanatik) dan Islam jalan tengah, tentu penjelasan Kang Said ini mendapat apresiasi oleh Syeikhul Azhar.

Islam di Nusantara khususnya Indonesia adalah Islam yang menggabungkan Nasionalisme dengan keimanann (Islam) sebagaimana yang gariskan oleh pendiri NU Hadratussyeikh Allamah Hasyim Asy'ari Hubbbul Wathon Minal Iman bukan Islam yang memisahkan antara Nasionalisme dengan keIslaman seperti keinginan Bapak Pendiri Nasionalisme dan Sosialisme Arab Michel Aflaq. Ucapan yang terkenal dari Michel Aflaq adalah Islam adalah bagian kecil dari kebudayaan Arab yang besar padahal Arab memiliki kehormatan, memiliki peradaban yang gemilang karena hadirnya Islam dan bukan sebaliknya.

Tuduhan dan fitnah yang dialamatkan kepada Kyai Said sebagai anti Arab selain tidak tepat juga tidak menemukan urgensi dan korelasinya karena beliau adalah seorang penuntut ilmu yang pernah sekolah di negeri Arab, belajar Islam dari literatur bahasa Arab, memiliki guru-guru orang Arab dan beliau sendiri adalah keturunan Arab.

Kyai Said mengatakan Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah Islam Nusantara atau dengan kata lain Islam Washotiyah bukan Islam "Arab". Yang dimaksud bukan Islam Arab adalah Islam yang sekarang ini dipromosikan oleh kelompok ekstrem yang dalam perjuangannya mengangkat senjata dan menghalalkan darah sesama kaum muslimin. Bukan Islam "Arab" yang dimaksud Kyai Said adalah sebuah fenomena kekinian, sekelompok orang yang berislam dengan menonjolkan atribut-atribut, yang mudah menyesatkafirkan sesama ahlul qiblah (takfirisme), kelompok yang paling mengaku Islam tetapi jauh dari nilai-nilai Islam seperti ciri-ciri mereka yang kita kenal hari ini mereka sangat intoleran, gemar sebarkan fitnah dan adu-domba sesama kaum Muslimin.

Ala kulli hal marilah kita berfiikr rasional dan bukan mendahulukan kebencian-kebencian karena hanya berbeda pendapat karena kebencian tidak akan membawa kebaikan tetapi akan membawa kehancuran dan perpecahan-perpecahan.Wallahu A'lam Bishowab.


Bandung, 7 Mei 2018



Tidak ada komentar

KOMENTAR PEMBACA:

Pembaca SUARA INDEPENDENT dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.